Sunday, August 5, 2012
Meraih kemuliaan Mahasiswa
Pada hari yang cerah di gedung FKM UNSRI tercinta sedikit asing karena belum terbiasa ..Mmbuat kita tersadar, kita telah berada di babak sejarah yang baru, mungkin akan bisa menantang nantinya ataupun bisa suram . ; Kebebasan dalam bersikap, bersosialisasi dengan sekub2 yang besar seperti antara adik tingkat dan kakak tingkat, bertemu seangkatan tapi beda jurusan membuat kita kadang bebas tak terikat tetapi juga kadang terkotak kotak. Selamat datang di FKM wahai sahabat, inilah sebuah langakh untukmu menentukan rutinitas masa depan agar lebih berguna dan bermanfaat di masyarakat.
Dimulai dari persepsi diri terhadap potensi yang kamu sadari cepat atau lambat sehingga kita menyiapkan kesempatan 2 untuk melejitkan kekuatan tersembunyi itu, bandingkanlah dengan masamu di SMA. Karena sekarang kamu masuk ke daerah untuk mencoba dan berkreasi. Dimulai dari langkah kecil untuk berani memulai. mencoba hal yang belum pernah dilakukan karena itu hal mulia , walau berat hanya di awal saja tetapi bermanfaat dikemudian hari.
Pilihlah kegitan yang potensi kita terakomodir di dalamnya;
Ketika ingin mencoba terjun didalam masyarakat cobalah untuk mengikuti PKM*, karya ilmiah CSR*, Desa binaan atau mengajar di TPA dekat maskjid kamu bisanya beribadah. Tidak perlu kita menunggu tahun ketiga untuk mengambil KKN, carilah pengalaman itu se-dini mungkin. Ketika ingin mencoba untuk bisa seperti Jurnalis, design grafis / membuat film. Hingga sekaliber reporter, cukup kita profesionalkan diri melalui Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) ataupun secara otodidak.
Atau kamu pernah ikut Organisasi ? ketagihan… silahkan telaah jenis2 organisasi di FKM maupun UNSRI karena disini akan lebih kompleks seperti miniatur Negara. Ada BEM untuk belajar pelayanan terhadap mahasiswa dari mengawasi birokrat*, menyokong pendapat mahasiswa dll. LDF sebagai pembentuk karakter , DPMF seperti halnya legislative. Hari genee Bosan ? Kakak katakan mari beristighfar karena jika itu terjadi maka kita secara tak sadar telah mematikan potensimu sebagai manusia yang berintelegensi dan bersosial tinggi dibandingkan makhluk lain. Ya karena kita diciptakan untuk mengelola Bumi.Nya. Mungkin dulu kita bermoto hidup di organisasi, ketika organisasi mati, mati juga kita. Hehe. Maka gantilah dengan “Menghidupkan Organisasi” katakanlah “jika ada kita organisasi itu lebih berjaya….”.
Yang belum maka cobalah Isilah waktumu selama 4 tahun ini dengan persiapan Soft skil ; manajemen, disiplin berprinsip dsb. Setiap orang bias kuliah , belajar mengerjakan tugas , lulus . tapi tidak semua orang punya kemampuna untuk manajemen waktu memimpin rapat pejabat, mempunyai pemikiran sehingga tidakpun berguna hanya pada diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Ingatlah jangan pernah menghinakan potensimu dengan diam saja, Mulailah ambil kemuliaanmu dengan kebermanfaatan mu bagi orang lain bersama orang lain dan Kamu akan menemukan apa itu kehidupan positif lagi bermanfaat itu…
*tanyalah ma kk tingkat apa arti istilah di atas. ^.^
_Abu ra’uf/ Abdullah FKM 2011
( telah dipublish dalam buletin BEM FKM)
Sunday, November 28, 2010
Rindu Nabi Muhammad Terhadap Kita
Adakah kita merindui Nabi Muhammad SAW setiap hari? Atau kita hanya merasa rindu ketika sambutan Maulid Nabi? Fikir-fikirkan.
Mari kita renungi sebuah kisah yang menunjukkan betapa baginda amat merindui kita; umat akhir zaman.
..................................................
Suasana di majlis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Saidina Abu Bakar.
Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan demikian.
Seulas senyuman yang sedia terukir dibibirnya pun terungkai.
Wajahnya yang tenang berubah warna.
"Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu? " Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut fikiran.
"Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan)," suara Rasulullah bernada rendah.
"Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah," kata seorang sahabat yang lain pula.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum.
Kemudian baginda bersuara, "Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasulullah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."
Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan 'ikhwan' baginda: "Siapakah yang paling ajaib imannya?" tanya Rasulullah.
"Malaikat," jawab sahabat.
"Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa hampir dengan Allah," jelas Rasulullah.
Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, "Para nabi."
"Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka."
"Mungkin kami," celah seorang sahabat.
"Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada ditengah-tengah kau," pintas Rasulullah menyangkal hujah sahabatnya itu.
"Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih mengetahui," jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.
"Kalau kamu ingin tahu siapa mereka? Mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku," jelas Rasulullah.
"Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka," ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu.
Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu...
Mari kita renungi sebuah kisah yang menunjukkan betapa baginda amat merindui kita; umat akhir zaman.
..................................................
Suasana di majlis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Saidina Abu Bakar.
Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan demikian.
Seulas senyuman yang sedia terukir dibibirnya pun terungkai.
Wajahnya yang tenang berubah warna.
"Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu? " Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut fikiran.
"Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan)," suara Rasulullah bernada rendah.
"Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah," kata seorang sahabat yang lain pula.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum.
Kemudian baginda bersuara, "Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasulullah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."
Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan 'ikhwan' baginda: "Siapakah yang paling ajaib imannya?" tanya Rasulullah.
"Malaikat," jawab sahabat.
"Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa hampir dengan Allah," jelas Rasulullah.
Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, "Para nabi."
"Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka."
"Mungkin kami," celah seorang sahabat.
"Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada ditengah-tengah kau," pintas Rasulullah menyangkal hujah sahabatnya itu.
"Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih mengetahui," jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.
"Kalau kamu ingin tahu siapa mereka? Mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku," jelas Rasulullah.
"Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka," ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu.
Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu...
Saturday, November 27, 2010
Arti Pembelajara
Ketika kerjamu tak di hargai maka saat itu kau sedang belajar KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting…
Maka saat itu kau sedang belajar tentang KEIKHLASAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam…
Maka saat itu kau sedang belajartentang MEMAAFKAN
Ketika kau harus lelah dan kecewa…
maka saat itu kau sedang belajar tntang KESUNGGUHAN
Ketika kau merasa sepi dan sendiri…
Maka saat itu Kau sedang belajar tentang KETANGGUHAN
Saudaraku
Tetaplah bersemangat,
Tetaplah tersenyum,
Terus belajar, Sahabat.
karena
Bumi ALLAH telah disiapkan sebagai Universitas Kehidupan,
Berjuanglah menjadi Mujahid…..
Subscribe to:
Posts (Atom)